Minggu, 21 November 2010

HIPERTENSI PADA ANAK


Hipertensi sistemik, suatu tanda patologi, dikenal lebih sering pada orang dewasa  (prevalensinya pada orang dewasa 10-15 %) daripada pada anak dan remaja. Pada anak bahkan bayi dapat mengalami hipertensi (tekanan darah tinggi), dan penyakit ini dapat menimbulkan kematian.
Hipertensi pada anak adalah keadaan di mana tekanan darah sistolik dan atau diastolik rata-rata berada pada persentil besar sama dengan 95 menurut umur dan jenis kelamin, yang dilakukan paling sedikit dalam tiga kali pengukuran.
Penyebab hipertensi pada anak kategori utamanya adalah penyakit ginjal. Hampir 80% penyebab hipertensi pada anak berasal dari penyakit ginjal. Biasanya timbul dalam bentuk akut atau berlangsung menetap (kronik). Hipertensi akut dapat ditemukan pada penyakit sindroma hemotolik uremik, lupus eritematosus sistemik dan gagal ginjal akut. Hipertensi kronik biasanya berkaitan dengan penyakit parenkim ginjal Sedangkan penyakit jantung dan pembuluh darah bawaan sejak lahir atau yang disebut koarktasio aorta juga dapat menyebabkan hipertensi pada bayi maupun anak.Penyebab lain hipertensi pada anak adalah gangguan hormonal karena penyakit endokrin, gangguan saraf karena tumor, infeksi atau trauma otak, pemakaian obat kortikosteroid dan obat tetes hidung, serta penyakit jantung dan pembuluh darah yang dapat menimbulkan hipertensi pada bayi maupun anak.
Anak bahkan bayi sekalipun dapat mengalami hipertensi. Penyakit ini juga dapat menimbulkan kematian. Maka, penting dilakukan deteksi dini dengan pengukuran darah secara rutin pada setiap anak usia 3 tahun ke atas paling sedikit sekali setahun.
Beberapa anak dari orangtua yang hipertensi dapat mengekresi metabolik katekolamin urin yang lebih tinggi atau dapat berespon pada pembebanan natrium dengan penambahan berat badanyang lebih besar dan penambahan tekanan darah dari pada mereka yang tanpa riwayat hipertensi.
Anak dan remaja muda dengan tekanan diatas persentil Ke-90 menurut umur sering menjadi orang dewasa dengan tekanan darah yang tinggi. Etiologi lainnya pada hipertensi  Misalnya tekanan darah naik. Pada bayi baru lahir paling sering dihubungan dengan kateterisasi arteri umbilikalis tinggi dan penyumbatan arteri rnalis karena pembentukan trombus.
Anak dengan hipertansi sekunder mempunyai kelainan ginjal sekitar 75-80%. Infeksi saluran kencing, penderita ini sering terkait dengan lesi obtruktif saluran kencing. Hipertansinya dapat disertai dengan retansi natrium, sekresi renin atau penurunan produsi bradikinin. Anak denagan kenaikan tekanan darahselam episode akut, infeksi dapat midah menimbulkan hipertensi esensial. Lesi parenkim ginjal lain yang disetai hipertensi umumnya terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus dari nefritis dapat menyebabkan penimbunan garam dan air, sedangkan lesi masa (kista, tumor padat, hematom) dapat menggangu perfusi bagian ginjal dan merangsang produksi renin oleh aparatus jukstaglomerulosa. Pada tumor wilms dan sel tumor juksta glomerulosa (hemangioparisitoma) mensekresi renin atau penekan substansi tanpa pengendalian umpan balik.
Pada penyakit jantung dan pembuluh darah bawaan sejak lahir atau yang disebut koarktasio aorta juga dapat menyebabkan hipertensi pada bayi maupun anak. Penyakit ini ditandai dengan tekanan darah pada lengan atas lebih tinggi dari tekanan darah pada tungkai, denyut nadi perifer melemah atau sulit diraba dan terdengar suara bising jantung. Koartasio aorta dan stenosis arteri renalis, menimbulkan hipertensi melalui perangsangan sistem renin-angiotensin-aldosteron. Angiotensin I diubah menjadi angiotensin II oleh  enzim pengubah angiotensin (angiotensin comperting enzim = ACE). Angiotensin comperting enzym menyebabkan degradasi metabolik kinin penyebab vasodilatasi. Anngitensin II adalah vasokosntriktor kuat dan merangsang sekresi aldosteron. Kedua berpegaruh dalam kenaikan tekanan darah.
Hipertensi sistolik dan takikardi sering ada pada hipertiroidisme, tetapi tekanan diastolik biasanya tidak naik. Hiperkalsemia sebagai akibat hiperparatiroidisme atau bukan sering menyebabkan kenaikan ringan pada tekanan darah karena bertambahnya tonus vaskuler. Gangguan adenokortikal (tumor yang mensekresi aldosteron, hiperplasia adrenal, sindrom cushing) dapat menyebkan hipertensi jika ada kenaikan pengaruh dari mineralokortikoid karena bertambahnya aldosteron, atau kortisol.
Tumor yang mensekresi katekolamin menyebabkan hipertensi karena pengaruh epinefrin dan norepinefrin pada jantung dan vaskuler.Efek toksik dari obat dapat menaikan tekanan darah. Obat inhalasi, tetes hidung atau dekongestan hidung umumnya menghasilkan vasokonstriksi perifer dan berbagai tingkat rangsangan jantung yang dapat menimbulkan tekanan darah yang tinggi dan menimbulkan kejang-kejang atau perdarahan inntrakranial.
Ada dua jenis hipertensi pada anak, yakni :
1. Hipertensi primer atau esensial, yang berhubungan dengan faktor keturunan, asupan garam, stres, dan kegemukan. 
2. Hipertensi sekunder, terjadi akibat penyakit lain yang mendasarinya dan menyebabkan tekanan darah tinggi. Penelitian menunjukkan, hipertensi pada anak 80% merupakan hipertensi sekunder.
Diperkirakan 2/3 anak dengan hipertensi kelak akan menderita penyakit kerusakan ginjal, jika tidak ditangani dengan tepat.Banyak faktor yang mempengaruhi tekanan darah anak. Anak bertubuh lebih berat atau lebih tinggi mempunyai nilai tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan anak sebaya yang lebih kurus dan pendek.
 Gejala umum yang timbul pada anak adalah sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, nyeri perut, muntah, napsu makan berkurang, gelisah, berat badan turun, dan keringat berlebihan. Karena itu, Ibu AKSI, penting untuk melakukan deteksi dini dengan pengukuran darah secara rutin pada anak usia 3 tahun ke atas, paling tidak setahun sekali.
Faktor-faktor yang menyebabkan anak menderiota hipertensi antara lain :
1. faktor keturunan, dalam riwayat keluarga ada yang mengalami hipertensi
2. anak lahir dengan berat badan rendah, tapi kemudian mengalami kelebihan berat badan
3. saat dilahirkan mengalami masalah sehingga harus lebih lama tinggal di rumah sakit
4. menderita penyakit jantung bawaan
5. kurang aktivitas
6. konsumsi garam, lemak dan gula yang berlebihan
7. bapak ibu perokok
 8. obesitas (kegemukan)
 9. minum obat kortikosteroid
            Pengobatan hipertensi pada anak tergantung dari derajat berat ringannya hipertensi dan penyakit yang mendasarinya. Pengobatan tanpa obat (nonfarmakologik), biasanya digunakan pada remaja dengan hipertensi primer dalam derajat ringan. Pengobatan terdiri atas perubahan pola makan dengan mengurangi garam dalam makanan sehari-hari, olahraga, menurunkan berat badan, mengurangi stres, berhenti merokok dan minum alkohol dan menghentikan pemakaian obat-obatan yang menyebabkan hipertensi. Pengobatan dengan obat antihipertensi (farmakologik) harus di tentukan terlebih dahulu indikasi yang pasti, seperti tidak berespons terhadap pengobatan tanpa obat, hipertensi berat, adanya gejala klinis yang berhubungan dengan kenaikan tekanan darah. Obat untuk mengontrol tekanan darah atau peninggian tekanan darah mendadak pada anak umumnya hidroklorotiazid, furosemid, kaptopril, propanolol, dan klonidin. Tindakan operasi biasanya ditujukan untuk mengobati penyebab hipertensi sekunder yang berkaitan dengan penyakit ginjal, penyakit pembuluh darah ginjal dan koarktasio aorta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar